Lucky Charms Rainbow

Selasa, 10 Maret 2015

CERPEN: Aku dan Uang Koin 200

Aku dan Uang Koin 200
Karya:  Alvi Audina Sari

Hari Senin, tepat pukul 13.00  Aku pulang sekolah, dan langsung  menuju  kantin Pak Kapjo. Aku beli es teh minuman Favorit Aku, dan permen rasa menthol. “Pak, pesen es teh seperti biasa es nya yang banyak yaaa, trus ama  permen 3”, Aku langsung membayar uang , “Nih,Pak” sambil menyerahkan uang 2.000. “Nih,Neng kembalinya 200 perak ya”. Sambil  menyerahkan  uang 200 nya. “Makasih ya pak” Aku tersenyum. Aku langsung menuju tempat parkir sepeda onthel hadiah dari ayah Aku waktu dulu Aku  jadi  Juara  Kelas V  pas Aku SD. Temen-temen Aku  udah pada nunggu dan kita semuanya langsung OTW pulang.
Panas dan teriknya mentari mewarnai perjalanan pulang kita berenam yaitu Aku,Sintia, Lina, Hani, Adnan, dan  Ahmad. Suhu udara siang hari ini panas sekali bagai masuk pemanggang roti dan sesekali Aku meminum es teh yang tadi Aku beli dikantin untuk mendinginkan ubun ubun ku yang mendidih dan melegakan tenggorokanku  yang  kering dan panas ini. Tanpa sengaja Sintia ingat bahwa seminggu lagi Erika ulang tahun “Hey.Mbak-mbak dan Mas-mas seminggu lagi Erika ulang  tahun lho, kalian  mau  pada  ngado  apa?” tanya  Sintia dengan  logat  jawa  ke arab-an  seperti Opek yang  menyayi iklan kopi di salah satu stasiun televisi. “Ehmmm, apa yaa?? Telur rebus terus ditulisin HBD Wish You All the Best yess” ceplos Hani dengan gaya humornya yang khas.” Ehmm, ngado buah aja, kulit buah  juga kaga ape-ape  hehehehe” jawab Ahmad logat  plin-plan  seperti  biasanya.”Hey, kalian ini ngaco banget sih ditanya serius malah  jawabnya  kayak  gituan bener-bener gilak kalik yaa??”, jawab Lina dengan nada tingginya. “Hey, sudah Agan-agan jangan ribut dijalan klo ribut di masjid aja sana, perhatiin  jalan  pulang  sana, kalian mau selamat?” jawab Adnan dengan gaya sok bijak  tapi kata-katanya sungguh nylekitkan hati dan jiwa raga kami. “Tumben Loe bijak Adnan, tapi... yang bikin enggak enak  kata-katamu itu lho sungguh menyakitkan hati, klo masalah itu kita rembug besuk aja di sekolah, Okeyy??” ucapku. Semuanya pada setuju. Kita pulang kearah jalan  pulang masing  masing  dengan  melewati  butiran debu dan panas dan teriknya matahari memanggang raga.
Sesampai dirumah,Aku disambut  oleh  Mamaku dengan  senyuman bagai  bidadariturun dari surga. Dann... seperti  biasanya  Aku  melemparkan  tas,sepatu  ke lantai bagaikan lempar Jumroh di Arab Saudi. Aku langsung lari menuju kamar dan menghidupkan  kipas angin  meja  milikku angin buatan itu sejuk sekali dan mendinginkan pembuluh darah yang terbakar di siang hari. Aku  melespaskan jilbab dan  menuju  kamar  mandi  untuk mengambil air wudhu, percikan air wudhu  itu menyejukkan pikiran dan hatiku yang terbakar oleh panas udara siang  hari ini. Aku  mengambil  mukena  putih suteraku  yang  ku kenakan  setiap hari. Selesai sholat, Mama mengampiri ku  dengan  omelan  yang  menurutku itu keji dan  membakar daun telingaku “Alviiiiii.....” Teriak Mama menuju tempat  pesanggrahanku. “Apasih Ma, Aku  barusan  pulang  sekolah  ndang  diomeli, capek tau!” ucapku  kesal  kepada Mama. “Kamu  udah  Gede  sayang, bisakan  klo  rapi?? Biar  enak dilhat gitu..”ucap Mama. Maklum Mama paling nggak suka klo anaknya ngga punya sifat rapi disiplin dan bersih. “iya Mahh, nanti klo udah engga capek lagi pasti Alvi rapiin” ucapku penuh rayuan “Bener lho ya, jangan bo’ong  klo iya tau  akibatnya kan??” “Iya Mom” jawabku singkat penuh senyuman.
            Beberapa saat kemudian, Aku ganti seragam sekolah Osis biru putihku dengan kaos  lengan  pendek dan tiduran diranjang empukku. Aku sedang memikirkan  kado apa yang bisa ku berikan kepada sahabatku, Erika. Dan  sesaat aku sedang  tiduran Mama datang secara tiba-tiba.”Ehh, Mama hehehe” ucap ku cengengesan kepada Mama “Nah lho belum di rapiin juga kan? Cepet sekarang dirapiin Mama ngga mau kamu punya karakter yang begitu buruknya! Seperti anak yang ngga pernah diperhatikan olah Mamanya aja! Cepet sekarang di rapiin!” bentak Mama kepadaku. “Iya Mah” jawabku singkat sambil beranjak dari ranjangku dan langsung menata dan merapikan tas, sepatu seragam dan perlengkapan lainnya, tanpa sengaja uang koin 200 perak gambar burung Jalak Bali uang kembalian jajan dari tempat Pak Kapjo tadi. Aku cuek bebek-in aja tuh uang kan juga ngga berharga banget gumanku dalam hati. Sesudah itu Mama menggambil uang duaratus perak tadi. “Kak, simpen nih uang klo terkumpul banyak kan lumayan” ucap Mama. “Alaahh Ma, Cuma uang segitu aja di openi yang diurus tuh yang limaratus perak kek, atau seribu, klo cuma uang segitu buat apa sih Ma?? Paling Cuma dapet permen atu aja” ucapku ngeyel dengan nada sedikit menyepelekan. “Kamu itu gimana sihh,klo uang segitu bagi yang mbutuhin berharga tau!” ucap Mama penuh kesabaran. “Iya, Mama” jawabku dengan nada datar. “Awas klo besuk butuh nih uang, klo mbingungin tujuh keliling, Mama nggak mau tau lho yaa!” ucap Mama dengan nada sedikit kesal kepadaku.
            Keesokan harinya, pagi di sekolah seperti adat biasanya cewek-cewek dikelas pada nggosip ngga jelas salah satu topik hari ini adalah tentang ulang tahun Erika dan pagi pagi itu Sintia, Hani ,Lina menyapaku dan langsung menanyaiku tentang rencana kapan pembelian kado untuk sahabat kami Erika,”Alvi, kapan nih belanja kadonya?” tanya Hani kepadaku, “Iya nihh, aku tanganku gatel banget pengen shopping udah lama akunya enggak belanja bareng ama kalian pada” ucap Lina penuh manja. “Lha,nek sabtu sore aje gimana? Kan kita pada kaga punya kesibukan sendiri-sendiri tuh” ucap Sintia. “Nah, aku setuju tuh, kumpul di toko nya langsung aja ya... toko Purnama Godean jam tiga sore tepat jangan ada yang sampe terlambat ingat yaa...” ucapku kepada ketiga sahabatku. Dan mereka semua pada setuju.
            Pada hari sabtu jam tiga sore, seperti apa yang dijanjikan kita kemaren di sekolah. Aku membawa uang 30.000 dan itupun hasil kerja kerasku menabung dan menyisakan uang saku sekolah. Kita semua langsung capcus masuk ke dalam sebah toko itu dan menuju lantai tiga dengan menaiki anak tangga dengan kaki kita masing-masing. Sesudah sampai ke lantai tiga kami pun berpencar untuk mencari kado. Aku ingin mengado Boneka, dan Aku memilih boneka hello kitty bewarna pink melihat harga boneka tesebut. Aku tertegun. Bagaimana mungkin, uangku kurang manalagi harganya mepet lagi. Aku berusaha mencari teman-temanku yang sedang asyik memakan es krim disela mbak pelayan toko itu membungkus kado tersebut. Dan jawaban mereka sama yaitu uangnya pas dan mepet banget alasannya buat bayar uang parkir. Aku mulai kebingunggan. Aku putuskan untuk mengembalikan boneka itu ke dalam rak tadi, dan langsung pulang dengan mengayuh sepedaku secepat kilat kuda berlari.
            Sesampai dirumah, Aku lari terbirit-birit menuju kamar seperti orang kebakaran jenggot saja. Aku mencari uang dua ratus perakku dengan gambar Burung Jalak Bali tersebut. “Aduh, mana uangku?? Terakhir aku lihat disini deh tapi kenapa enggak ada ya?” gumanku dalam hati yang sedang mencari koin di bawah ranjang tempat tidurku. Mama menghampiriku “Kenapa? Kok sepertinya kebinggungan sih? Coba cirtakan semua sama mama” tanya Mama. “Ini lho Mah, aku mencari uang duaratus perakku yang kemarin, Mama tau aku kasih kemana itu uang?” ucapku penuh sesal. “Terlambat, uang itu udah mama masukkin kedalam celenganmu” jawab Mama. Dan langsung Aku ceritakan semua kepada Mama. Aku terpaksa mengambil uang saku yang tersisa dan untuk membeli kado incaranku tadi. Langsung Aku menuju toko tersebut.
            Sesampai di toko, Aku mencari boneka hello kitty bewarna pink yang lucu, tapi seperti harapan yang tak kunjung sampai, boneka itu sudah tidak ada, Aku pun menanyai Mbak Pelayan, “Mbak tau boneka hello kitty warna ping engga?” tanyaku kepada mbak pelayan toko. “Aduh dek, maaf ya. Boneka itu udah dibeli sama adek kecil yang memakai rok merah itu” ucap ,mbaknya pelayan toko. Aku terdiam dan menyesal. Bagaimana mungkin boneka yang udah di sembunyiin rapat-rapat akhirnya ketahuan juga, Aku pun mencari boneka yang lain dan aku menemukan boneka dengan mata hitamnya yang mengkilat bagaikan bintang bersinar dilangit terang . Dan harganya pun mepet sekali dengan uang yang Aku bawa tadi dari rumah seharga 34.800, aku menuju ke kasir setelah membungkus boneka tersebut dan mendapat kembalian duaratus perak yang kedua. Aku pulang bersama temanku tadi itu. Dalam perjalanan pulang Aku berjanji tidak akan menyiayiakan uang koin lagi, dan Aku pun amat sangat menyesal karena tidak mematuhi nasehat Mama kemaren dan jika mendapat uang koin itu lagi Aku berjanji akan langsung memasukkan kedalam celengan dengan nilai berapapun  “Andai, aku mematuhi nasehat Mama mesti nggak bakal sekecewa dalam lautan luka dalam” gumanku dalam hati dan berjanji. Dan berharap Erika suka dengan apa yang aku berikan kepadanya. Yah semoga.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar